^ Kembali Ke Atas
More Website Templates @ TemplateMonster.com - February 06, 2012!

Masalah

1. Spesialisasi ekstrem

Rene Descartes meyakini bahwa keseluruhan sama dengan jumlah dari bagian-bagiannya. Bayangkan, satu martabak yang utuh sebagai sistem besar, maka tidak ada masalah ketika diiris-iris menjadi sistem-sistem yang kecil-kecil. Pandangan "reduksionisme" ini sangat cocok dengan tuntutan masyarakat modern yang bercirikan pembagian kerja. Maka kemudian ilmu dibagi dan dipisahkan ke dalam cabang-cabang yang lebih sempit. Dengan cara ini, setiap cabang dapat berkembang pesat, lalu melepaskan diri dari batang filsafatnya, dan membangun tembok tradisi keilmuan sendiri: matematika, astronomi, fisika, kimia, biologi, sosiologi, dan seterusnya.

Namun penelitian mutakhir menentang spesialisasi yang terlampau ekstrem. Cara belajar yang membagi materi menjadi bagian -bagian yang terpisah secara kaku sejatinya bertentangan dengan cara otak kita menyerap dan mengolah informasi. Jauh ratusan tahun sebelumnya Adam Smith, sebagai si pencetus pembagian kerja, sudah mengakui adanya dampak negatif itu. Menurutnya, manusia yang seluruh hidupnya dihabiskan untuk melakukan sedikit pekerjaan sederhana umumnya akan menjadi bodoh dan tidak peka.

Oleh karena itu, sedari awal kita perlu menyadari bahwa realitas adalah satu, utuh dan tak terpisahkan. Kita tak hanya perlu berpikir di luar kotak (out of the box), bahkan lebih baik juga tak percaya adanya kotak ilmu yang saling terasing. Menurut anda, AIR itu termasuk bidang kajian cabang ilmu apa? Jawabannya tegas, air termasuk bidang kajian semuanya. Air bisa dikaji dari sudut pandang mana saja. Sebuah ISTILAH mungkin bisa dikategorikan pada cabang ilmu tertentu, tetapi makna atau realitas di balik istilah tidak memihak cabang ilmu manapun. "Isolated material particles are abstractions," ujar Niels Bohr.


2. "Otak Kiri" ekstrem

Hasil penelitian sebuah tim yang dipimpin oleh Roger Sperry, seorang pemenang hadiah Nobel 1981, menemukan bahwa bila corpus callosum (sekumpulan saraf yang berfungsi sebagai penghubung kedua belahan otak) dipotong, pasien berpikir dengan dua pikiran yang berbeda. Bila si pasien memegang sikat gigi dengan tangan kiri, berarti otak kanan yang bekerja, dia tahu cara menggunakannya tapi lupa namanya. Akan tetapi bila memegang dengan tangan kanan, berarti otak kiri yang bekerja, dia dapat segera menyebut "sikat gigi".

Temuan Roger Sperry itu menunjukkan bahwa kedua belahan otak bertanggung jawab atas pikiran yang berbeda. Otak kiri verbal, otak kanan nonverbal. Otak kiri (atau Oki) cenderung memproses cara berpikir logis, rasional, linear, berurutan, analitis, dan sistematis. Bila ditanya mengapa melakukan sesuatu, Oki akan mengarang penjelasan verbal yang tampaknya logis, meskipun tidak benar. Otak kanan (atau Oka) cenderung memproses cara berpikir intuitif, emosional, nonverbal, holistik, dan konseptual. Bila ditanya mengapa melakukan sesuatu, Oka tidak akan menjawab sebab tak dapat bicara.

Namun apa yang dilakukan di kelas biasanya menggunakan aktivitas otak tidak seimbang, terlalu berat ke otak kiri. Misalnya, menulis huruf demi huruf secara serial dan mendengarkan penjelasan logis. Kegiatan berpikir intuitif-imajinatif, seperti membuat perumpamaan, perkiraan, dan spekulasi dianggap bumbu atau selingan saja, bahkan seringkali dilarang keras, karena didakwa tidak logis. Pada ulangan atau ujian selalu berkaitan dengan kegiatan membaca dan menulis. Bila anda menjawabnya dengan gambar atau peragaan, anda akan dituding sebagai pembuat onar. Bila anda menjawabnya dengan perumpamaan atau cerita, anda dianggap tidak serius dan merendahkan martabat guru. Akibatnya, sebagus apapun jawaban anda pasti dinilai tidak benar.

Nah, sekarang, silakan anda jawab pertanyaan ini: apa itu GAYA?

Problems cannot be solved by the same level of thinking that created them, (Albert Einstein)

^ Kembali Ke Atas

Solusi

Membiasakan diri "menghubung-hubungkan" (berpikir ASOSIATIF) di antara segala sesuatu dan memadukannya secara kreatif dan kritis. Mengapa tidak? Praktikkan sekarang juga.


Pentingnya berpikir ASOSIATIF, yakni menemukan atau menciptakan hubungan di antara segala sesuatu, ternyata sesuai dengan fakta ilmiah tentang otak. Satu sel merupakan satu unit kerja biologis yang lengkap dan mandiri. Namun berbeda dengan sel-sel lain, sel otak (neuron) memiliki keunikan dapat membentuk semacam tangan yang dapat menghubungkan satu sel otak dengan sel-sel otak lainnya. Lihat gambar di bawah ini.

Keseluruhan kerja otak akan berkembang jauh lebih baik apabila sel-selnya saling menjalin hubungan satu dengan lainnya. Ibarat dua orang yang sedang saling berjabat tangan untuk menjalin silaturahim, kedua sel yang saling berhubungan tidaklah menyatu, tetapi dipisahkan oleh celah sempit bernama sinapsis. Hubungan sinapsis inilah kunci fungsi otak. Dan faktanya pada hari-hari pertama kehidupan kita, hubungan ini terbentuk dengan kecepatan luar-biasa: tiga miliar sinapsis per detik. Masalah kita, bagaimana cara praktis agar sinapsis terus terbentuk dan yang telah terbentuk menjadi lebih kuat?

Otak (brain) dapat dipandang sebagai cerminan biokimiawi dari struktur pikiran (mind). Otak manusia terdiri atas miliaran neuron dan pikiran terdiri atas jutaan atau miliran konsep atau informasi. Jika ingin membuat koneksi antarneuron, kita dapat melakukannya dengan menghubung-hubungkan antarkonsep dalam pikiran kita. Namun nyatanya sambungan sinapsis ini hanya akan terbentuk apabila kita dapat menciptakan arti atau makna pada apa yang kita pelajari. Maka dari itu semakin luas anda menghubung-hubungkan hingga semakin sering kita menciptakan ide baru betapapun tampak konyol, berarti semakin banyak pula kita belajar. Dan disebabkan potensi hubungan itu praktis "takhingga" maka, seperti ditegaskan Leonardo da Vinci, "Learning never exhausts the mind."

Berpikir adalah proses menciptakan makna atau pengetahuan. Tepat sekali Ibnu al-Qayyim ketika berkata, "Berpikir adalah menghadirkan dua pengetahuan untuk menciptakan pengetahuan ketiga". Pada metode ilmiah, pengukuran adalah proses membandingkan PENGETAHUAN PERTAMA alat ukur (misalnya termometer) dengan PENGETAHUAN KEDUA sesuatu yang hendak diukur (misalnya suhu tubuh anda) untuk mendapatkan PENGETAHUAN KETIGA informasi tertentu (misalnya suhu badan anda sekarang adalah 40oC). Pada logika deduktif, kedua pengetahuan yang dimaksud adalah pernyataan umum ("jika saya berpikir, maka saya ada") dan pernyataan khusus ("saya berpikir"), sedangkan pengetahuan ketiga adalah simpulan ("saya ada").

Like a highly intelligent child with a pail of Legos, a genius is constantly combining and recombining ideas, images, and thoughts into different combinations in their conscious and subconscious minds. (Michael Michalko)

Berpikir kreatif selalu merupakan upaya menciptakan pemahaman baru dalam pikiran, atau menghasilkan hubungan biokimia baru dalam otak. Namun sebenarnya tidak ada sesuatu pun yang benar-benar baru di kolong langit ini. Semua "bahan baku" kreativitas telah tersedia. Apa yang dapat diciptakan hanyalah hubungan atau kombinasi baru. Jutaan orang tahu makna "air". Jutaan orang juga tahu makna "botol". Namun hanya orang kreatif yang menghubung-hubungkan kedua makna tersebut secara sungguh-sungguh untuk melahirkan makna ketiga: air dalam kemasan botol untuk dijual ! "You don't have a really good idea until you combine two little ideas," ujar Twyla Tharp.

Pengertian "baru" di sini bermakna sangat luas. Tidak berarti harus "baru" bagi masyarakat, tetapi minimal "baru" bagi si pemikir. Ketika masih anak-anak, semua genius. Si anak bisa dan biasa menciptakan makna baru, tentu dengan cara berpikir ASOSIATIF. Si anak tahu bahwa sendok dan piring berbeda. Namun dia mampu menemukan hubungan tersembunyi, yaitu keduanya itu merupakan peralatan makan. Si anak telah menciptakan makna baru bagi dirinya, meskipun bagi orangtua yang sudah berjerawat dan beruban itu bukan hal baru. Si anak terus belajar dan mencipta dengan penuh gairah sampai kemudian ada aturan ketat dari pihak sekolah.

^ Kembali Ke Atas

Penerapan

Membiasakan diri berpikir ASOSIATIF sebelum berpikir LINEAR ketika berusaha menghadirkan makna kedua dan menciptakan makna ketiga. Mengapa tidak? Praktikkan sekarang juga !


Temuan kreatif tidak muncul tiba-tiba, pasti melalui proses kreatif yang rinciannya biasanya tidak mudah. Tidak mudah untuk dilakukan maupun dijelaskan. Albert Einstein mengakui, "I never came upon any of my discoveries through the process of rational thinking." Namun intisari atau garis besar kreativitas sama saja: mempertemukan makna pertama dan makna kedua untuk menciptakan makna ketiga. Agar penjelasan ini lebih konkret, mari kita tengok kisah Archimedes.

Istilah Penjelasan khas otak kiri: Penjelasan dengan cerita/contoh:
Makna pertama adalah... Masalah apa yang secara nyata sedang dihadapi saat itu. Archimedes dimintai Raja Hieron II untuk menyelidiki apakah mahkota emasnya itu murni atau dicampuri logam lain.
Makna kedua adalah... Pengetahuan atau dugaan apapun yang dapat mengarahkan perhatian , mendatangkan ilham, menimbulkan pengalaman "aha" (aha erlebnis), dan mendorong berpikir dan bertindak menuju penemuan. Ketika mencebur di bak yang penuh dengan air, dia merasakan badannya terdorong ke atas dan sebagian air tumpah. Dia berpikir ASOSIATIF hingga akhirnya... "Aha...!," kata Archimedes. Dia bangkit dan berteriak dengan luapan kegembiraan, "Eureka! Eureka!" ("Sudah kutemukan! Sudah kutemukan!").
Makna ketiga adalah... Apa yang diciptakan sebagai hasil pembentukan hubungan di antara makna pertama dan makna kedua. Hukum Archimedes: Apabila sebuah benda sebagian atau seluruhnya terbenam ke dalam air, maka benda tersebut akan mendapat gaya dorong ke atas yang besarnya sama dengan berat air yang dipindahkan oleh bagian benda yang terbenam tersebut.

Kita bisa menjalani proses kreatif seorang diri. Namun bila ada guru atau teman, proses kreatif bisa berlangsung lebih mudah dan terarah. Hal ini karena dua kepala akan lebih mudah menghasilkan dua makna yang berbeda, sehingga kita lebih cepat mendapatkan "pengalaman aha". The art of teaching is the art of assisting discovery. Ada benarnya peribahasa Cina ketika mengatakan, "Sekali percakapan dengan seorang yang bijaksana adalah lebih baik daripada sepuluh tahun belajar seorang diri."

Sebagai contoh, perhatikan cerita nyata di bawah ini. Stephanus (bukan nama sebenarnya) ialah siswa kelas XII SMA swasta ternama, putra seorang guru matematika SMP ternama di Kota Tegal. Berikut adalah sepenggal dialog saya dengan Stephanus di Sekolah Ilmu Eksakta (SIE).

- Berapa nilai √3 + √3(dibaca: akar tiga ditambah akar tiga) ?
+ Tidak tahu, Pak. Lupa. Lupa rumusnya. Ya, lupa. Dulu saya pernah belajar itu.
Stephanus menghadapi masalah matematika, menemukan "makna pertama".
- Baiklah. Ingat saja matematika kelas I SD. Berapa satu kambing ditambah satu kambing? Berapa satu akar kelapa ditambah satu akar kelapa?
+ Oh...
Saya memberikan "makna kedua", memancing dia berpikir ASOSIATIF.
- Mudah, kan?
+ Kok cuma seperti itu?!
Saya memastikan hadirnya pengalaman aha.
- Ya, memang seperti itu. Sekarang, berapa akar tiga ditambah akar tiga?
+ Dua akar tiga.
Stephanus berhasil menemukan hubungan antara "makna pertama" dan "makna kedua".

Pada praktik, banyak guru terbiasa "tergesa-gesa" langsung meresepkan rumus textbook a√c + b√c = (a+b)√c. Rumus aljabar ini mungkin terkesan lebih ilmiah dan eksak. Namun yang jelas, pendekatan formal semacam ini biasanya terasa ASING. Apakah sebelumnya siswa sudah terbiasa rumus aneh itu? Dan, bagi pikiran/otak kita, apapun yang dipandang asing dan aneh akan lebih lambat diterima, jika tidak ditolak. Maka dari itu, terhadap ide atau konsep baru apapun, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan kita dapat berpikir ASOSIATIF, yaitu mengaitkan apa yang AKAN dengan yang TELAH benar-benar kita ketahui. "The most important single factor influencing learning is what the learner already knows," tegas David Ausubel.



Berapa nilai dari 15 * 29,3 = ?

Jika terbelenggu oleh kebiasaan "otak kiri ekstrem", kita akan segera melakukan perhitungan secara linear dan runtut. Agar proses ini lebih mudah dilakukan, kita menggunakan pulpen dan kertas. Bila ada kalkulator, mengapa tidak digunakan saja? Kita akan tiba pada jawaban eksak, yaitu _____. Kemudian, kita melakukan "pembulatan" menurut banyaknya digit atau angka penting yang diperlukan.

Agar manusiawi, kita perlu terbiasa dengan LANGKAH PERTAMA, yaitu berpikir ASOSIATIF. Awalnya kita menghadirkan dan menghubungkan soal tersebut dengan 15*30=450. Lalu kita menyimpulkan bahwa nilai 15*29,3 pasti kurang dari 450. Mengapa? _________________ Berapa jawaban eksaknya? Lanjutkan ke LANGKAH KEDUA, yaitu berpikir linear. Kita berpikir runtut langkah demi langkah sampai mendapat jawaban eksak, yaitu ________.

^ Kembali Ke Atas
Testimoni icon
Quotes
  • "Education is the ability to perceive the hidden connections between phenomena. "

    - Vaclav Havel



Testimoni icon
Galeri
  • 1 SISWI SIE
  • 2 RUANG KELAS SIE
  • 3 SIE & ASAP CAIR
  • 4 SIE & ASAP CAIR
  • 5 SIE & ASAP CAIR


Testimoni icon
Arsip